Ilustrasi Pemimpin
Ternyata, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Kepemimpinan yang baik membutuhkan sifat sebagai pengikut, demikian laporan Harvard Business Review.
"Kepemimpinan hanya akan efektif lewat kemampuan mereka (pemimpin) dalam menghadapi pengikut. Tanpa kepengikutan (followership), kepemimpinan (leadership) bukanlah apa-apa," tulis Harvard Business Review.
"Orang-orang akan lebih efektif sebagai pemimpin bila sifat mereka menunjukkan bahwa mereka "salah satu dari kita" atas dasar memiliki nilai, kepedulian, dan pengalaman yang sama, serta bekerja untuk kita, dengan cara berusaha memajukan kepentingan kelompok ketimbang kepentingan pribadi," tulis laporan itu.
Peters dan Haslam turut melakukan penelitian berdasarkan rekut baru anggota Royal Marines yang melakukan pelatihan elit. Mereka mencari tahu mengenai kemampuan kepemimpinan dan apakah mereka memandang mereka sebagai pemimpin alami.
Hasilnya? Ternyata mereka yang memandang dirinya sebagai pemimpin alami justru gagal meyakinkan kawan-kawan mereka mengenai itu. Sebaliknya, anggota yang memandang diri sebagai pengikut justru keluar sebagai pemimpin menurut penilaian evaluator di dalam tim.
Pemimpin yang Dekat dengan Pengikut
Peters dan Haslam menyimpulkan bahwa "pemimpin" yang berjarak dari kelompok akan menjadi resep kegagalan, bukan kesuksesan.
"Hal tersebut mendorong pemimpin untuk jatuh cinta pada citra mereka sendiri dan meletakan diri mereka di atas dan terpisah dari pengikut. Dan itu adalah cara terbaik untuk membuat pengikut tidak menyukai pemimpin," tulis mereka.
Efeknya, kapasitas kepemimpinan akan turun, dan menghalangi kemauan pengikut untuk mengikuti. Alhasil organisasi akan tumbuh negatif.


0 comments:
Post a Comment